Sabtu, 19 Desember 2015

Ga Tau Mau Ngomong Apa

Kadang ada aja kejadian yang sebenernya kita ga mau kejadian itu terjadi atau ada tapi ternyata dia harus ada. Seperti saat ini, kejadian yang membuat gue gundah gulana dan terus bertanya, kenapa sih Tuhan, kenapa, tapi yaaa mungkin Tuhan pikir I deserve this. Gue percaya Tuhan lagi liat gue, Dia lagi liat gue lagi ngapain, itu kalo gue lagi nyadar, kalo lagi nyadar yaa akhirnya banyak banyak istighfar sambil yakin yang saat ini bikin gundah akan lewat walau ga tau dalam waktu berapa lama. Mau cerita kadang juga ga tau mau cerita sama siapa, ga guna juga kali, jadi ya ceritanya gini aja di sini, serius ga tau mau ngomong apa, yang gue tau gue harus kuat apapun yang bikin gundah gue harus bisa tetep mikir normal, ga bikin hal hal konyol dsb dsb, banyak istighfar, baca Quran dsb. C'est la vie :)

Jakarta, 19 Desember 2015

Jumat, 04 Desember 2015

Pemimpin dan Hati Nurani

Hari ini langit mendung dan saya bersuka cita karena saya lebih suka suasananya, adem, dingin, dan tidak akan ada matahari yang membuat saya penuh peluh saat berjalan kaki.  Oooh…ternyata tidak hanya mendung, hujan turut menemaninya, walau tidak deras, dan tidak lama, tapi cukup membuat suasana teduh.

Semua berjalan baik, hingga saya membuka laman sebuah kampus di Jakarta yang mengadakan lomba menulis artikel dengan temaWe are The Future Leader sekonyong-konyong saya merasa tertegun sejenak, berpikir dan bertanya kepada diri saya sendiri, apakah saya sudah menjadi seorang pemimpin? Katanya, pemimpin itu tidak harus memiliki pengikut karena minimal seseorang itu dapat disebut seorang pemimpin bagi dirinya sendiri. Baiklah, jika saya memang adalah seorang pemimpin, apakah saya telah menjadi seorang pemimpin yang baik? Dalam tempo yang begitu cepat saya punya banyak pertanyaan di kepala dan tentunya ada sedikit-sedikit rasa sesal di dalam hati, mengapa di umur sekian rasanya saya masih berada di kondisi saya berada ini, mengapa saya tidak berbuat lebih sehingga saat ini saya sudah mencapai hal yang lebih. Selain pertanyaan, rasa sesal, muncullah rasa tidak puas akan apa yang telah saya lakukan dan saya capai. Walaupun mungkin apabila saya bercerita kepada teman-teman, mereka yang tahu saya lebih lama, mereka ada mengacungi jempol dengan pencapaian saya, menurut mereka apa yang saya capai adalah sudah termasuk luar biasa, namun hati kecil saya menyangkal dan berkata harusnya saya bisa berbuat lebih. Berhenti di situ sejenak.
Saya tertarik ikut dalam kontes menulis dengan tema We are The Future Leader  tidak untuk mendapatkan hadiahnya, namun lebih karena saya ingin tulisan saya dapat dibaca dan bermanfaat untuk teman-teman pembaca. Saya ingin menuliskan begitu banyak hal, tapi saya harus cukup tahu diri bahwa makin ke sini waktu orang semakin sedikit, sehingga rasanya tulisan tentang We are The Future Leader  tidaklah perlu dibuat panjang lebar dan rumit.
Kawan, saya pernah mendengar bahwa mereka yang sukses dan pada akhirnya lahir sebagai pemimpin yang benar-benar pemimpin adalah mereka yang memulai usaha mereka dengan niat membantu orang lain. Mereka memulai perjalanan kepemimpinan mereka dengan niat mulia bahwa mereka ingin menolong. Merekalah pemimpin yang memiliki hati nurani, tidak hanya pemimpin yang memikirkan diri sendiri dan keluarganya, atau bahkan kawan-kawan terdekatnya. Pemimpin yang baik adalah mereka yang rela berkorban untuk pengikut-pengikutnya, berani membela yang benar dan menghukum yang bersalah, dan berani juga bertanggungjawab atas kelalaian dan kesalahannya. Patut kita sadari, tidak lah mudah menjadi pemimpin karena pada hakekatnya tidak ada manusia sempurna, begitu pun pemimpin. Pemimpin, atau seseorang yang pada akhirnya bergelar pemimpin pastinya pernah juga mengalami pengalaman buruk atas kelalaian dan kesalahannya tadi, atau secara tidak langsung pengalaman yang dialaminya dan mau tidak mau membuatnya terlibat dalam sebuah masalah. Inilah yang kemudian membedakan, bagaimana menghadapi masalah sebagai bagian dari pengalaman hidup, apakah sekedar disesali atau kemudian diambil pelajarannya untuk menjadikan dia seorang yang lebih baik, karena seorang pemimpin pun harus mampu merendahkan hatinya dan mau berintrospeksi diri. Untuk semua itu, bercermin diri, introspeksi diri, tidak memikirkan diri sendiri, rela berkorban untuk pengikut pastinya, berani membela yang benar dan menghukum yang bersalah membutuhkan hati nurani. Marilah kita masing-masing melihat hati nurani kita. Mari kita mulai dari diri sendiri, berusaha menjadi individu yang lebih baik sehingga orang-orang di sekitar kita pun merasakan kebaikan yang kita miliki, dari situ barulah pelan-pelan kita berusaha membantu mengurangi beban orang lain, baik dengan ucapan, tulisan, pergerakan tangan,  hingga pergerakan yang lebih besar yang dimulai dari hati nurani. In shaa Allah dengan niat baik dan diawali dari hati nurani, akan muncul pemimpin-pemimpin baru yang mampu memajukan bangsa ini, tidak hanya dari segi materi dan ekonominya, juga jiwanya.
Salam semangat dari saya, semoga tidak hanya ilmu dan harta yang berlimpah yang kita miliki, tapi juga hati yang luas dan jiwa besar yang siap membawa bangsa ini menjadi lebih dari yang dicita-citakan pemimpin kita terdahulu.
Jakarta, 11 Maret 2014
Adelina Fauzie

Rabu, 02 Desember 2015

Tidak Ada Kata Terlambat Untuk Sebuah Perubahan Menuju Kebaikan

Menurut sebuah hadits, hati manusia seperti kita ini sangat mudah terbolak balik, bahkan lebih cepat dia terbolak balik dibanding air yang sedang mendidih di dalam sebuah bejana, karena itu supaya hati kita ini selalu baik kondisinya, selalu ingat pada Allah misalnya, selalu ingin melakukan kebaikan, selalu mau menjauhi kemunkaran, selalu berpikir positif tentunya kita harus minta kepada Sang Maha Pemilik Hati, Pemilik hati kita ini bukanlah kita, namun Sang Maha Pencipta, Allah Yang Mahaesa, Allah SWT. Allah jualah yang mampu membolak balikkan hati ini, sebab itu ada pula doa doa yang kita patut panjatkan untuk meminta kepadaNya agar senantiasa diberi hati yang kerap taat kepadanya, selalu tegak di atas agama, begini bunyi doanya, ”

“Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alad dinika wa ‘ala tho’atika”.
“Wahai dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku atas agama-Mu dan atas ketaatan kepada-Mu”.

Tidak mudah, tentu saja tidak mudah, doa kita pun belum tentu langsung dikabulkan, masih saja godaan datang bertubi tubi, godaan yang kadang membuat kita lupa akan Yang Mahapunya. Contohnya kita ini kan dilarang beghibah, tapi kalau sedang dengan teman teman pasti ada saja berghibahnya, eh tapi ya, bergantung teman kita juga loh, jadi kalau kita mendekatnya dengan yang senang berghibah ya bisa saja kita pun jadi ikut-ikutan, tapi kalau kita dekat dengan orang yang tidak suka berghibah insyaa Allah walaupun kita biasanya suka berghibah bisa loh pas ketemu teman itu sama sekali tidak berghibah alias ngomongin orang. Lah terus apa yang diomongin, ya hal hal lain misalnya bercerita tentang pengalaman atau membahas rencana yang tentunya tidak menyentuh kehidupan orang. Ya namanya juga usaha, usaha untuk tidak berghibah. Kita  sekarang mulai berniat ya semoga di setiap pertemuan dengan siapapun, kita selalu dipertemukan dengan orang orang yang hatinya juga condong kepada Allah sehingga mereka pun adalah yang berusaha melakukan yang terbaik di dalam hidupnya, termasuk berusaha menghindari ghibah. Bismillaah, insyaa Allah niat kita untuk berubah menuju kebaikan dan menomorsatukan Allah diridhoiNya, ingat, Allah itu Yang Mahatahu, Dia Maha Melihat dan Maha Mendengar. Insyaa Allah hal hal baik yang terniatkan tersembunyi di dalam hati sekalipun Allah tahu.
Catatan ini ditulis di Jakarta, 14 November 2015 dalam kondisi pikiran banyak isinya, maunya banyak, mau nulisnya juga banyak, tapi sementara baru ini saja yang mampu dituangkan. Mudah mudahan nanti akan menulis lagi tentang banyak hal yang ada di kepala ini yang kiranya bermanfaat untuk kita semua :)

Sabtu, 17 Oktober 2015

Bunga Mawar Lambang Persahabatan




Bunga mawar di taman saatnya mekar,
warna warni warnanya tampak indah sebelum memudar
Bunga mawar beragam warna bermakna lembut dan sangar,
Warna warni ada putih, merah, kuning, cerah bagai pendar.


Jakarta, 17 Oktober 2015

Rabu, 14 Oktober 2015

Sebuah Catatan :) Satu Muharram 1437 Hijriyah

Ke mana sajakah kakiku melangkah?
Kakiku setiap hari melangkah ke tempat kerja. Mudah-mudahan pekerjaan yang kulakukan bermanfaat dan membawa berkah untukku dan semua yang terlibat dengan pekerjaan itu.
Kakiku setiap hari melangkah ke tempat penjual makanan atau kantin kantor. Mudah-mudahan makanan apapun itu walau hargnya murah bisa membantu tubuh ini berkembang sehat.
Kakiku sesekali melangkah ke tempat makan di mall. Mudah-mudahan makanan yang kumakan di sana benar benar halal.
Kakiku sesekali melangkah ke bioskop. Mudah-mudahan dari film yang kutonton ada pelajaran yang bisa diambil.
Kakiku kadang melangkah ke mesjid untuk mendengarkan ceramah. Mudah-mudahan walau hanya sesekal aku mendengar ceramah di mesjid,i ilmu agama yang kudapat di masjid dapat membantuku hidup bahagia dunia akhirat.
Kakiku seminggu sekali melangkah ke taman di rumah untuk mencari keringat. Mudah-mudahan walaupun cuma seminggu sekali olah raga itu membantuku memperoleh ridho Allah agar aku sehat.
Kakiku sekali sekali melangkah ke rumah teman, ke rumah saudara, ke rumah yatim, atau ke rumah sakit untuk bersilaturahmi, menjenguk yang sakit, pun yang sehat. Mudah-mudahan silaturahmi ini membawa banyak hal baik untuk kami.
Kakiku sekali sekali pergi ke makam ibu dan ayah, tak harus hanya saat berlebaran. Mudah-mudahan Allah lapangkan kubur kami, juga Allah selamatkan kami dari siksa kubur itu.
Kakiku setahun sekali minimal alhamdulillaah bisa menapak kota di luar kota Jakarta dan sekitarnya. Mudah-mudahan dengan melihat sisi lain bumi ini aku dapat semakin mensyukuri apa apa yang sudah Allah beri kepadaku.
Kakiku ingin sekali dapat melangkah ke tanah suci Mekkah dan Madinah. Mudah-mudahan niat ini semata-mata murni karena cintaku kepada Allah dan mudah-mudahan Allah mengabulkan keinginanku ini.
Ke manakah aku ingin melangkah? Tentunya banyak tempat selain ke tanah suci Mekkah dan Madinah, bahkan dulu sekali sampai jaman nafsu masih begitu menggebu, aku masih ingin sekali pergi ke club atau diskotik atau apapun namanya itu. Alhamdulillaah kakiku ini tak pernah Allah ijinkan pergi sana, sungguh aku beryukur, dan aku yakin sungguh Allah lebih tahu mana yang lebih baik untukku, karena memang sesungguhnya aku tak tahu apa apa, sungguh Allah Maha Mengetahui akan segala sesuatu.
Mudah-mudahan Allah selalu membimbing kita sehingga kita langkahkan kaki kita ke tempat di mana banyak berkah bisa kita temukan di sana, insyaa Allah, aamiin.

Minggu, 27 September 2015

Tak Penting Lagikah Sebuah Ucapan Terima Kasih?

Sejak dulu saya perhatikan, ada saja orang yang tidak senang atau mungkin terlalu angkuh untuk mengucap kata terima kasih, bahkan saya menemukannya di antara segelintir rekan kerja yang bergelut di dunia pendidikan, sementara padahal sekelompok lain di masyarakat malah sedang mencoba menjadi lebih baik dalam menyampaikan ucapan terima kasih dengan menambah bentuk kata terima kasih yang dalam bahasa Arabnya adalah syukron, dengan ucapan terima kasih yang diiringi doa yang berbunyi Jazakumullah Khairan Katsiran ( semoga Allah SWT akan membalas kalian dengan kebaikan yang banyak).

Saya kembali teringat cerita seorang ibu guru saat masih di bangku SMP dulu. Saya masih ingat betul, nama ibu guru saya itu bu Nunung, dia mengajar mata pelajaran Ekonomi, ehtah apa pemicunya, hari itu bu Nunung bercerita bahwa kami, siswa didiknya tidak boleh lupa untuk selalu mengucapkan terima kasih kepada siapapun yang telah membantu kita atau memberikan/berbuat kebaikan untuk kita. Beliau mencontohkan misalnya saat dia naik becak, selesai dia membayar, tak lupa dia mengucapkan terima kasih, karena abang becak telah berhasil mengantarkannya dengan selamat sampai di tujuan. Akhirnya sejak saat itu setiap kali saya naik angkot, sehabis saya membayar ongkos tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada sang pengemudi. Sebuah motivasi yang menarik dan memang penting datang sekitar dua puluh tahun yang lalu, namun hingga sekarang masih lekat di ingatan dan menjadi motivasi saya juga untuk melakukan hal serupa.

Selain itu, coba kita perhatikan dalam sebuah dialog pelajaran bahasa Inggris, dialog yang berisi percakapan dua orang yang mungkin sudah lama tidak bertemu biasanya dialog dibuka dengan pertanyaan apa kabar, lalu dijawab dulu oleh yang ditanya dengan jawaban terima kasih, sebelum dia bertanya balik tentang kondisi si penanya, mungkin gambaran dialog itu bisa seperti ini:
Adelina: Hi Nurul. How are you?
Nurul: alhamdulillaah, I’m fine, Teteh, thank you. How about you?
Adelina: alhamdulillaah… Teteh is also fine. Thanks Nurul.

Dari dialog itu saja kita bisa melihat dan belajar bahwa ketika seseorang bertanya tentang keadaan kita, lazimnya kita mengucap terima kasih karena orang tersebut sudah cukup peduli akan kita dengan bertanya apa kabar ke kita, nah ini masa orang sudah membantu kita apapun bentuknya, kita tidak sanggup mengucapkan terima kasih sedikit saja? Coba perhatikan diri kita masing-masing nanti, saat kita berdialog atau berinteraki baik lisan maupun tulisan, panjang dan juga pendek dialognya, dengan orang lain,siapa saja, baik orang yang kita kenal maupun tidak, apakah kita termasuk yang sulit atau mungkin jarang ingat untuk mengucapkan terima kasih, jika ya, rasanya sudah saatnya mencoba mengubah kebiasaan itu, karena mengucapkan terima kasih serta mendoakan orang yang telah berbuat kebaikan untuk kita adalah bagian dari bentuk komunikasi yang baik, bahkan perbuatan itu adalah sunnah Rasulullah SAW. yang sangat baik jika dilakukan, dan sangat sayang apabila ditinggalkan, berikut haditsnya, “Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan “jazaakallahu khaeron (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.” (HR.At-Tirmidzi (2035), An-Nasaai dalam Al-kubra (6/53), Al-Maqdisi dalam Al-mukhtarah: 4/1321, Ibnu Hibban: 3413, Al-Bazzar dalam musnadnya:7/54. Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam shahih Tirmidzi). Hadits saya kutipkan dari http://m-alwi.com/jazakumullah-khairan-katsiran-wa-jazakumullah-ahsanal-jaza.html

Kuningan, Jakarta, 10 Juli 2015
Adelina

What Skills Are You Good at?

I am always amazed when I hear people, most of them are my students, sing new songs well and fluently, have no problems with their pronunciation, especially, when I asked them about it, they told me that they could remember the songs or the lyrics just by listening the songs or music often without reading the lyrics text. I, myself, cannot do that kind of thing as well as they do it. Here I believe, every person has different talents and abilities. Some people are given the listening skill well, as easy as my students they can remember the things they listen easily, some others are given different things, they do better for other skills, perhaps they can write more easily than others, or maybe they are good at speaking, they can speak English perfectly, for example, like a British, etc.

So folks, what I am trying to tell, finally in my class I like reminding my students not to feel worry if they feel difficult in doing a skill, they must be better at doing some other skills, and about the skill they are not good at, actually they can practise it, for example for me, because I do not have good enough skill at listening to remember a song, so I need to prepare more, if I want to remember a song, I need to prepare the lyrics to be read, after that I play the music, sing it, and do it repeatedly, later when I listen to the song without the lyrics I can sing the song well too as other people do:)
Keep our spirit high!!

Cheers, ^_^